Selasa, 17 November 2009

kotak sabun (di kutip dari rectoverso, by dewi lestari)

tak akan ada yang mengerti betapa sukarnya ini,
betapa beratnya lepas dari penjara yang kau cinta,
betapa sulitnya menikmati angkasa luas tak terperi tanpa merasa ngeri,
setelah sekian lama engkau tersekap dalam kotak sabun,
dimana engkau terantuk setiap kali bergerak..

lewat pembiasaan, kotak pengap itu menjadi hangat.
benturan itu menjadi hiburan.
hingga pada satu titik, engkau ingin kotak itu selamanya melingkupimu.
kebebasan yang tiap hari kau damba dan kau kejar dalam mimpi,
menjadi mimpi permanen yang sepaket dengan upayamu untuk mewujudkannya.
sekalipun engkau ingin dan kau teriakkan inginmu pada setiap orang,

tapi pada saat kotak itu terbuka,
engkau malah gelagapan,
menggapai-gapai udara kosong demi mencari kungkungan itu lagi.
engkau lebih rindu terantuk dan terbentur-bentur ketimbang bertemu kehampaan yang dulu kau interpretasikan sebagai kebebasan,

aku gelagapan,
aku menggapai-gapai udara kosong,
aku ngeri melihat langit terbuka ini,
aku gentar

tak akan ada yang mengerti betapa menyesakkan ini semua,
aku merindu hingga gagu,
aku mendamba hingga kehilangan daya,
dan akan ku hukum diriku sendiri setiap harinya hanya demi lepas dari rasa bersalah ini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar